Isteri, Jangan Berlaku Kasar Terhadap Suamimu Supaya Hidupmu dan Keturunanmu Berbahagia

 Berita seorang snya uami melakukan tindakan kasar kepada istri rasanya sudah jamak . Sebaliknya mungkinkah isteri, yang merupakan kaum yang lebih lemah, melakukan tindakan kasar terhadap suaminya ? Saya rasa ya. Banyak contoh terjadi di kehidupan sehari-hari. Dan malah semakin banyak.

Saat ini akan dibahas tindakan-tindakan kasar itu. Pada waktu berikutnya akan menuliskan contoh-contoh kejadian-kejadian nyata.

BAGAIMANA ISTERI BERTINDAK KASAR TERHADAP SUAMINYA ?

Tindakan kasar melalui perkataan

a. Nada tinggi dan melawan.

Ada sebagian isteri kalau berbicara dengan suami memakai nada tinggi dan cenderung melawan. Mungkin isteri merasa secara aturan berada di bawah otoritas suami, lalu ingin meletakkan diri dalam posisi sama. Namun cara yang dipakai adalah dengan ungkapan nada bicara tinggi dan melawan.



b. Kata-kata menghina.

Seorang suami memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu bisa jadi mengecewakan sang istri. Namun isteri seringkali menyatakan kelemahan-kelemahan itu secara frontal. Ada seorang suami yang tidak bisa naik ke atas genting., isteri mengatakan, "kamu harusnya pakai rok saja..ga pantas pakai jas"

Penghinaan yang sangat kasar terjadi bila isteri mengungkapkan kelemahan suamya dalam berhubungan badan. Suaminya beberapa kali sudah selesai sebelum isteri mencapai puncak. Ada yang begitu selesai sang isteri mengatakan, " Ah, kamu itu pangkatmu ga naik-naik..selalu "peltu" saja...."

Atau nanti kalau ada persoalan sehari-hari, isteri memakai kejadian itu untuk menyerang suami, " jadi suami hanya bisa ngomong doang....tindakan nol..."

Kata-kata yang menghina akan lebih tajam bila disampaikan di depan umum. Suami akan merasa sangat dipermalukan, ketika isteri menceritakan kelemahannya di depan umum atau berkata yang jelek kepada suaminya di depan umum.

c. Meresponi suami sambil lalu.

Suami merasa terabaikan dan merasa direndahkan ketika ingin mengajak bicara atau menceritakan apa yang dialami di kantor, isteri mendengarkan sambil lalu dan meresponi ala kadarnya. Isteri melakukan hal tersebut mungkin dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, sehingga tidak fokus. Akan tetapi kalau hal itu sering, suami merasa tidak dianggap penting di rumah.

Tindakan kasar secara seksual


Bisakah isteri melakukan tindakan kasar secara seksual ? Tentu. Joko adalah seorang ahli teknik,memiliki isteri yang juga aktif bekerja wiraswasta. Saat Joko pada malam hari mengajak berhubungan badan, bahkan sudah melepas baju, isterinya mengatakan capai. Ketika Joko mencoba merayu istrinya, isterinya membalikkan badan , sambil mengatakan."Mas, aku itu capai, aku juga bekerja....jangan egoislah..".

Dan sambil terlentang tanpa baju, akhirnya Joko hanyanbisa memadangi langit2 kamar dengan perasaan marah, malu, sementara juga mengendalikan dorongan birahinya. Di sampingya isterinya tidur dengan berbalik badan. Entah tidur atau pura-pura tidur.

Penolakan kepada ajakan suami dengan cara seperti itu sangat memukul sang suami. Laki-laki diciptakan dengan mekanisme harus ada yagn dilepaskan. Laki-laki diciptakan juga dengan perilaki seks sebagai bagian dari harga dirinya. Ketika itu ditolak, maka merupakan pukulan keras kepada pusat kelaki-lakian seorang suami.

Tindakah kasar seorang isteri kepada suami dalam hal hubungan seks, juga bisa dilakukan dengan cara membiarkan suami menyetubuhinya tanpa menyediakan diri untuk melayaninya. Memang tidak menolak, tapi tidak meresponinya. Tubuhnya dijadikan boneka saja. Suami tentu merasa tidak enak dan merasa tidak dihargai dengan keadaan seperti itu.

Jadi seolah tindakan itu tindakan diam, bukan kasar, tapi di dalam jiwa akibatnya seperti satu kekasaran.


Tindakan kasar melalui pengaturan-pengaturan


Tindakan kasar isteri juga bisa dilakukan dengan cara memimpin membuat aturan di keluarga. Jika tidak boleh mengatur, isteri akan marah.

Ada isteri yang mengatur kemana , kapan, dan dengan siapa suami boleh pergi. Isteri harus mengerti dan harus mendapat laporan lengkap tentang kegiatan suami. Begitu ada kegiatan yang isteri tidak tahu atau pergi dengan orang yang isteri tidak kenal, langsung isteri marah besar.

Tentu suami akan merasa sangat tersiksa. Suami punya tanggung jawab sosial. Kalau kehidupan sosialnya dibatasi dengan cara seperti itu, pasti akan sangat menyiksa. Apalagi kalau itu juga berkaitan dengan pekerjaan, yang otomatis juga berkaitan dengan pendapatan.

Alangkah tersiksanya suami kalau orang lain mengerti bahwa sang suami ada di bawah pengaturan isteri.


Demikian juga ada yang isteri yang memegang kendali semua keuangan. Semua pendapatan masuk ke isteri , lalu istri yang atur. Bahkan suami mendapat jatah dari isteri. Kadang-kadang ada juga masih ingin mendapat laporan uang yang dibawa suami dipakai apa saja.

Bahkan tidak sedikit yang memeriksa dompet dan saku suaminnya.


Tindakan kasar juga bisa dilakukan ketika isteri tidak mau diatur. Isteri tidak mau mengatur suami, tapi dia juga tidak mau diatur. Dia ingin hidup sendiri. Dia ingin dengan dunianya sendiri. Ini kadang-kadang sepertinya dianggap hal biasa. Tapi mengingkari perjanjian pernikahan, dimana suami isteri adalah satu kesatuan dan suami ditetapkan sebagai kepala. Kepala bukan berarti diktator, tetapi sebagai penanggung jawab kehidupan. Jadi kalau isteri tidak lagi mau berada di bawah pengaruran suami ( yang tentu akan dilakukan secara dmokratis ) maka jiwa suami pasti tersiksa. Suami akan merasa kehilangan dirinya. Karena dia ada berdasarkan pernjanjian yang sudah ditetapkan dalam janji penikahan.



ISTERI YANG LEBIH "BESAR" DAN SUAMI YANG LEMAH ADALAH TANTANGAN


Tindakan kasar bisa lebih besar terjadi kalau isteri lebih "besar" dari suami. Lebih besar pendapatannya, lebih besar "kemampuan", dan lebih besar "kepribadiannya ".

Istri bisa mengendalikan semua hal di rumah dan menempatkan suami sebagai "pembantu". Isteri yang lebih besar pendapatannya bisa merasa lebih berarti dan lebih berkuasa mengatur keluarga. Suami harus ikut, sebab sebagai suami telah turun posisinya, karena pendapatannya berada di bawah isteri.

Demikian juga isteri yang pintar dan kuat dalam kepribadian ( kepribadian tertentu ) bisa mengendalikan semua tujuan , rencana, dan tata nilai di keluarga. Dan dengan demikian menyingkirkan suami.


Akan lebih berbahaya lagi kalau suami bukannya kurang dari isteri, tapi benar-benar tidak mampu. Suami yang kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkannya lagi. Suami yang tidak cerdas dan suami yang pembentukan kepribadiannya tidak baik. Keadaan demikian menjadi tantangan bagi isteri, Dan isteri yang tdak cakap akan berbuat kasar kepada suaminya.



BAHAYA -BAHAYA DARI ISTRI YANG BERTINDAK KASAR TERHADAP SUAMI


a. Anak-anak kehilangan figur Bapak

Kalau isteri melakukan tindakan kasar kepada suaminya sehingga suami merasa "tersingkirkan" dan akhirnya membuat perannya hilang, membuat anak-anak kehilangan peran Bapak. Anak-anak akan mengalami kekosongan peran ayahnya. Hal in akan membuat adanya kekosongan jiwanya. Akan membuat anak-anak kehilangan rasa aman.

Pada waktunya nanti anak-anak bisa mencari kekosongan dengan berbagai macam hal. Mungkin mereka akan merasa mendapat dari pacar, teman, kegiatan, atau obat. Sebab jiwanya akan terus mencari kekosongan itu. Dan akan menyiksa hidupnya, sebab semau pengganti itu tidak bisa mengisi keksongan itu.


b. Anak-anak tidak belajar penundukkan

Ibu adalan contoh pertama tentang penundukkan diri. Kalau ibu tidak tunduk kepada Bapak, maka anak tidak mendapat contoh nyata dan kemudian berpikir penundukkan diri itu tidak penting. Mereka akan menjadi pemberontak dimana-mana. Anak-anak wanita kelak juga tidak akan tunduk kepada suaminya. Anak-anak laki-laki akan menjadi otoriter.

Apabila anak-anak itu menjadi pemimpin, maka mereka akan menjadi pemimpin yang kasar terhadap terhadap orang yagn dipimpinnya. Dan kalau mereka pemimpin negara, bisa dibayangkan akibatnya


Dan yang harus diperhatikan dupklikasi kekasaran itu akan terus terjadi pada generasi-generasi berikutnya. Isteri yang melakukan tindakan kasar, sedang menyiapkan generasi -generasi yang kehilangan kebahagiaan.


c. Kehilangan keindahan pernikahan

Pasti keindahan pernikahan lenyap. Tidak bisa lagi ada kemesraan, tidak ada lagi kenikamatan. Pernikahan malah bisa menjadi seperti "neraka". Dan ini tentu jauh dari yang sebenarnya diinginkan dari seorang istri. Tapi kadang-kadang tindakan-tindakan sehari-hari yang kasar, tidak memperhitungkan akibat yang akan timbul.

Isteri, anak-anak, dan suami tidak menikamati rumah indah keluarga, yang sebenarnya dijanjikan kepada setiap orang yang yang besungguh-sungguh menepati janji pernikahannya.


d. Isteri kehilangan jadi diri

isteri diciptakan untuk merendahkan diri kepada suami, sebagai kepala. Bukan karena suami lebih hebat tetapi karena demikianlah jati diri seorang isteri. Merendahkan diri bukan berarti menjadin rendahan. Merendahkan diri berarti mengakuin bahwa dalam keluarga ada aturan. Dan dalam aturan itu suami ditempatkan sebagai kepala. Tentu seorang isteri haruslah lemah lembut. Yang dimaksud lemah lembut, bukanlah gaya bicara atau gaya tubuh. Lemah lembut adalah keadaan hati yang tidak pemarah, tidak pembalas, penuh dengan hormat dan kasih.

Kalau isteri bertindak kasar makan dia kehilangan jati dirinya. Kehilangan jati diri kehilangan nilai dirinya, sehingga hidup tidak berarti. Mungkin isteri punya banyak uang, banyak aktivitas, dihargai dimana-mana. Tapi ketika dia pulang ke rumah, sendirian dalam kamar, dia akan merasakan betapa tidak berartinya hidup ini.

0 Response to "Isteri, Jangan Berlaku Kasar Terhadap Suamimu Supaya Hidupmu dan Keturunanmu Berbahagia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel